PIK KRR FORUM

SOLUTION FOR YOUR PROBLEM
 
HomeCalendarGalleryFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in

Share | 
 

 PENGEMBANGAN PUSAT INFORMASI KRR

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Admin
Admin


Posts : 5
Points : 2676
Reputation : 0
Join date : 2009-08-24

PostSubject: PENGEMBANGAN PUSAT INFORMASI KRR   Mon Aug 24, 2009 3:38 pm

PENGEMBANGAN PUSAT INFORMASI KRR



Banyak pihak menganggap pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja sangat penting, namun kenyataan di lapangan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja (KRR) masih minim sekali. Dari berbagai survey yang dilakukan pada orang tua dan guru, mereka juga mendukung program KRR, tapi buku pegangan yang mereka miliki masih sangat minim.

Untuk menjawab permasalahan itu, sejak awal 2002 lalu, BKKBN bekerja sama dengan Yayasan AIDS Indonesia mencoba menerapkan metode yang dinilai cukup efektif dan efisien bagi remaja, juga orang tua. Yaitu, pengembangan model pusat informasi KRR melalui pemberdayaan pendidik sebaya dan konselor sebaya (PS/KS) di tingkat komunitas. Karena terbatasnya dana yang dikucurkan World Bank (Bank Dunia), proyek ini baru direalisasikan di dua propinsi dengan mengambil sepuluh kabupaten. Pertama, provinsi Jawa Tengah: Brebes, Cilacap, Jepara, Pemalang dan Rembang. Dan kedua, provinsi Jawa Timur: Ngawi, Trenggalek, Jombang, Sampang dan Pamekasan.
Menurut Siswanto Wilopo, Deputi Bidang KB dan KS BKKBN, ada dua alasan mengapa dua provinsi ini yang terpilih. Alasan pertama, karena dilihat dari sumber daya ke depan Jawa Tengah dan Jawa Timur dianggap mampu memanfaatkan sumber dana yang tersedia. Alasan kedua, Jawa Tengah dan Jawa Timur dinilai memiliki infrastruktur yang kuat dan memiliki kontribusi yang besar bagi pengembangan di daerah sekitarnya.
“Model-model peer sebaya yang dikembangkan di daerah lain sudah beragam, tapi keberadaannya kurang menjamin efektifitas tinggi dan belum terlihat dampaknya secara nyata,” jelas Siswanto, saat membuka seminar pengembangan model informasi KRR yang digelar YAI dengan BKKBN di ruang serbaguna BKKBN, Jakarta, 6 Agustus 2002 lalu. Hadir sebagai pembicara, Dra Ninuk Widiantoro, psikolog yang aktif di YAI dan Eddy N Hasmi, Direktur Remaja dan PHR sebagai moderator.
Keberadaan peer sebaya ini menjadikan kegiatan yang harusnya terus berlanjut, kadang hanya sebagai tanda atau indikator bahwa masalah remaja sudah diperhatikan dengan baik. “Kita harus mengakui saat ini materi yang tersedia sangat kurang, keterampilan belum ada dan keberlangsungan organisasi belum dapat dilakukan dengan baik. Ada istilah, bantuan berhenti, kegiatan pun berhenti. Ini menjadi tantangan bagi kita. Apalagi pendanaan KRR kini telah menjadi program nasional. Sehingga ada kewajiban moral bagaimana memanfaatkan dana bantuan dikembangkan melalui chanel-chanel yg cocok,” jelas Siswanto.
“Dari dua provinsi ini, kita belajar banyak bagaimana memanfaatkan materi yang ada, hasil dari materi yang ada menjadi warisan bagi daerah lain mengacu pada model yang telah digunakan. Materi untuk daerah Jawa belum tentu cocok untuk daerah lain. Mudah-mudahan konsep ini bisa digeneralisasikan ke daerah lain,” tambahnya.

Seragam Pramuka

Menjadi pendidik/konselor sebaya diantara remaja dengan usia beda tipis (tidak berbeda jauh), sebenarnya memiliki tantangan sendiri. Apalagi materi yang diberikan berkaitan dengan sex education yang masih dianggap tabu bagi masyarakat pada umumnya. Untuk menyiasati itu, ada beberapa teknik yang dilakukan beberapa PS/KS agar tidak hanya remaja yang mau mengakui keberadaan mereka, tapi juga instansi terkait yang diharapkan mau membantu merealisasikan kegiatan penyuluhan ini.
Contohnya Sri Sundari (20), pendidik/konselor sebaya dari Trenggalek. Tinggal di kota terkecil di Jatim ini, ungkap Sundari, memiliki permasalahan yang tak kalah besarnya dengan kota Malang, Yogya maupun Surabaya. Upaya yang dilakukan adalah merangkul kelompok-kelompok remaja yang tidak berstruktur, seperti anak geng, anak jalanan, tukang ojeg yang drop out SMU. “Kenyataan di lapangan, jadi kian mendewasakan kami bahwa ternyata cukup banyak remaja bermasalah. Sehingga, kami mempunyai tanggung jawab moral untuk membantu mereka.”
Materi KRR yang berkaitan agama, ungkap Sundari, dianggap cukup sulit untuk diterangkan pada teman-teman sebayanya. Oleh karena itu, mereka pun bekerja sama dengan Departemen Agama guna memberi akses pula untuk bisa mendekati pesantren-pesantren di daerah trenggalek. Sebagai remaja yang aktif di kegiatan pramuka, seragam pramukanya kadang dijadikan tameng untuk bisa menembus jalur birokrasi yang dinilai Sundari dan teman-temannya menjadi kendala. “Kalau keberadaan pramuka diakui kita gunakan agar bisa mendapat tempat di hati para pak pejabat. Jadi, mohon ma’af kalau YAI sering dinomor duakan, hehehheh,” celetuk Sundari dengan dialeg jawanya.
Lain halnya dengan pengalaman Wahyu, PS/KS dari Sampang. Ia pernah disemprot “lonte-lonte” di pasar, gara-gara mencoba mendekati remaja terminal, pasar yang menjadi sasaran pembinaan dan penyuluhan KRR. “Remaja di sana sangat keras, butuh kasih sayang, broken home. Ini menjadi tantangan bagi kami untuk memberi pendampingan dan membangun tali kasih antara kakak dan adik.”
Dari hasil berbagi pengalaman PS/KS yang didatangkan khusus mengikuti seminar di Jakarta bersama sekitar 40 anggota LSOM, Ninuk menyimpulkan bahwa tingkat pengetahun PS/KS terhadap masalah kesehatan reproduksi telah meningkat karena adanya kegiatan ini. Padahal, mereka hanya digembleng selama empat hari dari tanggal 8 – 11 Januari di Ambarawa dan mulai dilakukan penyuluhan pada remaja dilaksanakan selama 4 bulan lalu, yaitu sejak April – Juni. Antusias remaja yang mengikuti penyuluhan ini pun dinilai cukup bagus. Karena, dari 12898 remaja yang terdaftar ada 10.062 yang mengikuti sampai selesai (82%).
Back to top Go down
View user profile http://pik-krr.your-talk.com
 
PENGEMBANGAN PUSAT INFORMASI KRR
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
PIK KRR FORUM :: PIK KRR-
Jump to: